Lansekap Sebagai Medium Spiritualitas pada Masjid Baiturrahman Semarang dalam Konteks Arsitektur Religius
DOI:
https://doi.org/10.32315/ti.13.a017Keywords:
arsitektur, religius, masjidAbstract
Masjid Agung Baiturrahman Semarang sebagai masjid ikonik di Semarang, tidak hanya berperan sebagai pusat ibadah umat Islam, tetapi juga sebagai ruang publik yang memiliki makna religius mendalam. Pasca revitalisasi, area plaza masjid yang terbuka, jalur pedestrian yang terstruktur, serta elemen air dan vegetasi dirancang untuk menuntun jamaah melewati tahapan transisi dari ruang profan ke ruang sakral. Penilitian ini membahas keterkaitan antara desain lansekap masjid dengan prinsip-prinsip arsitektur religius, khususnya dalam menciptakan suasana spiritual yang mendukung kekhusyukan dan kontemplasi. Lansekap yang luas dan bersih berfungsi sebagai ruang jeda untuk persiapan batin, sedangkan orientasi bangunan, penggunaan material alami dan pola sirkulasi mendukung narasi perjalanan spiritual menuju ruang utama salat. Integrasi antara elemen lansekap dan arsitektur ini tidak hanya memperkuat identitas religius masjid, tetapi juga menciptakan pengalaman ruang yang harmonis, inklusif, dan sesuai dengan semangat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
References
Eliade, M. (1959). The Sacred and the Profane: The Nature of Religion (W. R. Trask, Trans.). Harcourt.
Norberg‑Schulz, C. (1980). Genius Loci: Towards a Phenomenology of Architecture. Rizzoli. Diakses pada 27 Juni 2025, dari https://archive.org/details/geniuslocitoward0000norb
Zumthor, P. (2006). Atmospheres: Architectural Environments. Surrounding Objects. Birkhäuser. Diakses pada 4 Juli 2025, dari https://archive.org/details/peter-zumthor-atmospheres
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Upasara Wulung Wicaksana Adinegara, Iqbal Kurnia , Muhammad Didan Surya Permana , Timotheus Billie , Rosalia Rachma Dihadiani , Bonifacio Bayu Senasaputro

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




