Evaluasi Pasca Huni Museum TNI di Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.32315/ti.6.c013Keywords:
museum, manajemen, evaluasi, SWOT, sirkulasiAbstract
Selain sebagai tempat pameran, museum juga berfungsi sebagai media edukasi, tempat rekreasi, dan pengenalan sejarah. Museum tentara merupakan museum yang unik karena menampilkan koleksi terkait dunia ketentaraan Indonesia.Yogyakarta memiliki museum tentara lengkap dari Angkatan Darat (AD), Angkatan Udara (AU), maupun Angkatan Laut (AL). Akan tetapi, minat masyarakat untuk mengunjungi museum relatif rendah. Salah satu alasannya adalah karena manajemen museum yang kurang baik. Evaluasi pasca huni museum dilakukan untuk menentukan kemungkinan perbaikan yang dapat diterapkan. Evaluasi dimulai dengan survey lapangan, diikuti dengan komparasi kondisi real dan aturan yang ada, dan diakhiri dengan analisis SWOT sebagai pertimbangan untuk perbaikan museum. Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan jumlah pengunjung, selain promosi museum, yaitu pengaturan tata cahaya, denah pameran, alur sirkulasi, dan penambahan atau pembaharuan koleksi museum.
References
Arsip Indonesia (2015). Museum Sepi Pengunjung karena Kurang Promosi. Retrieved April 15, 2017, from http://arsipindonesia.com/kronik/museum-sepi-pengunjung-karena-kurang-promosi/
BIGCOMMERCE (2016). What Is A SWOT Analysis, and Why Is It Important? Retrieved April 15, 2017, from https://www.bigcommerce.com/ecommerce-answers/what-is-swot-analysis/
Chiara, J. De., & Callender, J. H. (1983). Time-saver Standards for Building Types. McGraw-Hill.
Creswell, J. W. (2008). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. California: Sage Publications, Inc.
Dinas Pariwisata DIY. (2016). Statistik Kepariwisataan 2015. Yogyakarta. Retrieved from http://visitingjogja.web.id/assets/uploads/files/bank_data/Buku_Statistik_Kepariwisataan_DIY_2015_05092016040516.pdf
Direktorat Museum. (2009). Ayo Kita Mengenal Museum. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Direktorat Permuseuman (2000). Kecil Tetapi Indah: Pedoman Pendirian Museum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dit. PCBM. (2015). Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Museum. Retrieved April 15, 2017, from http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/2015/05/11/permasalahan-dan-tantangan-pelestarian-museum/
Elfajri, I., Hariyono, W., & Iswanta. (2015). Evaluasi Pasca Huni Ruang Perawatan Intensif RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Ganslandt, R., & Hofmann, H. (1992). Handbook of Lighting Design. ERCO.
Groat, L., & Wang, D. (2002). Architectural Research Methods. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Hill, B. (2013). Why Perform a SWOT Analysis? Retrieved April 15, 2017, from http://smallbusiness.chron.com/perform-swot-analysis-5050.html
Neufert, E. (2002). Architects Data.
Paramitasari, A. U., & Prawira, M. P. (2016). Evaluasi Pasca Huni (Post Occupancy Evaluation) pada Taman Lansia di Kota Bandung. In Temu Ilmiah IPLBI (p. A 007 – A 014).
Pedoman Penyelenggaran dan Pengelolaan Museum. (1989).
Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1995 Tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum (1995). Indonesia.
Putra, Y. M. P., & Yulianingsih. (2015). Tingkat Kunjungan Museum di DIY Masih Rendah. Retrieved April 15, 2017, from http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/10/07/nvuq8i284-tingkat-kunjungan-museum-di-diy-masih-rendah
Savitri, A. I. (2015). Evaluasi Pasca Huni pada Ruang Pamer Museum H. Widayat. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Yogaswara, W. (2010). Bagaimana Mendirikan Sebuah Museum.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2017 Dian Dianti Avoressi, Muhammad Sani Roychansyah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




