Membaca Ngalalakon pada Komunitas Adat Ciptagelar sebagai Masyarakat Peladang

Authors

  • Susilo Kusdiwanggo Institut Teknologi Bandung

Keywords:

Ciptagelar, ngalalakon, masyarakat peladang

Abstract

Masyarakat peladang identik sebagai masyarakat yang bermobilitas tinggi karena seringnya mereka berpindah tempat (migrasi). Dalam perspektif komunitas adat Ciptagelar sebagai masyarakat peladang, mobilitas ini disebut sebagai ngalalakon. Ngalalakon adalah ritual berkelana yang wajib dijalankan atas perintah wangsit leluhur. Prinsip ngalalakon ternyata berbeda dengan kaidah migrasi pada umumnya. Tulisan ini membaca pola ngalalakon komunitas keturunan Ciptagelar dari jejak spasial yang ditinggalkannya. Jenis metode yang digunakan dalam riset ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan lapangan-etnografik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan mendengarkan informan. Data dianalisis secara domain, taksonomis, komponensial, hingga memunculkan tema-tema. Ngalalakon merupakan salah satu tema yang muncul. Dalam ngalalakon dijumpai beberapa aspek, yaitu tahap, sifat, jenis, gerak dan unsur penanda. Dari sembilan belas ritual ngalalakon komunitas adat Ciptagelar, ternyata membentuk rangkaian tiga fase yang setiap tahapnya berbeda maksud ritualnya.

References

Tuan. Yi-Fu. (2002). Community, Society, and the Individual. Geographical Review, Vol. 92, No. 3 (Jul., 2002), pp. 307-318. American Geographical Society.

Nikolas Kompridis. (2005). Normativizing Hybridity/Neutralizing Culture. Political Theory, Vol. 33, No. 3 (Jun., 2005), pp. 318-343. Sage Publications, Inc.

Binford, Lewis R. (2001). Constructing Frames of Reference: An analytical method for archaeological theory building using hunter-gatherer and environmental data sets. Berkeley: University of California Press.

Kunz, E. F. (1973). The Refugee in Flight: Kinetic Models and Forms of Displacement. International Migration Review, Vol. 7, No. 2 (Summer, 1973), pp. 125-146. The Center for Migration Studies of New York, Inc.

Alexander, Rani T. (2006). Maya Settlement Shifts and Agrarian Ecology in Yucatán, 1800-2000. Journal of Anthropological Research, Vol. 62, No. 4 (Winter, 2006), pp. 449-470. University of New Mexico.

Sumardjo, Jakob. (2003). Simbol-Simbol artefak Budaya Sunda: Tafsir-Tafsir Pantun Sunda. Bandung: Kelir.

Emzir. (2008). Metodologi Penelitian Pendidikan: Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Raja Grafinda Persada.

Neuman, w. Lawrence. (2006). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches. 6th Edition. Pearson International Edition.

Adimihardja, Kusnaka. (1992). Kasepuhan yang Tumbuh di Atas yang Luruh. Bandung: Transito.

Roseman, Curtis C. (1971). Migration as a Spatial and Temporal Process. Annals of the Association of American Geographers, Vol. 61, No. 3 (Sep., 1971), pp.589-598. Taylor & Francis, Ltd.

Cresswell., John. W. (2003). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. 2nd Edition. Sage Publications, Inc.

Tjiptoherijanto, Prijono. (2000). Mobilitas Penduduk dan Pembangunan Ekonomi. http://www.bappenas.go.id/. Date acces: 29 August 2013.

Downloads

Published

2026-01-12