Pelestarian Adaptif Kawasan Cagar Budaya melalui Smart Heritage Village: Studi Penataan Kotagede, Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.32315/ti.13.a109Keywords:
smart village, heritage area, conceptual methodAbstract
Konsep kota pintar mencakup pengembangan, aplikasi, dan implementasi teknologi yang diterapkan di suatu wilayah. Hal ini mencakup interaksi kompleks antara berbagai sistem yang ada di dalamnya. Kota pintar berusaha mengembangkan sistem perkotaan berbasis teknologi untuk mendorong pertumbuhan kota secara efisien, sambil tetap memperhatikan kekayaan budaya lokal yang menjadi dasar perkembangan tersebut. Tujuan utama dari penerapan konsep Smart City adalah membentuk dan mengimplementasikan kota yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan keberlanjutan, serta memperkuat aspek sosial, daya saing ekonomi, teknologi, dan kenyamanan lingkungan. Ini termasuk memfasilitasi akses yang lebih dan memperkuat posisi kota di bidang ekonomi, sosial, dan teknologi. Saat ini, Kota Yogyakarta, sebagai pusat dari Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mengalami perkembangan pesat. Perkembangan ini menyebabkan kawasan sekitar pusat kota juga ikut mengalami perubahan, termasuk wilayah bersejarah seperti Kotagede. Sebagai pusat Kerajaan Mataram Islam pada pertengahan abad ke-16 dan berjarak sekitar 8 km di tenggara pusat Kota Yogyakarta, Kotagede memiliki latar belakang sejarah yang sangat kaya dan situs-situs bersejarahnya yang relatif terjaga dengan baik, sehingga memiliki nilai tinggi. Nama Kotagede berasal dari istilah “Kutha Gede”, yang berarti “benteng besar”. Pada masa lalu, wilayah seluas 2.028.000 m2 ini dikelilingi oleh sebuah benteng besar yang oleh masyarakat setempat disebut “cepuri”. Berdasarkan Keputusan Gubernur-Undang-Undang No. 186/KEP/2011, Kotagede termasuk dalam kawasan situs warisan budaya yang bernilai tinggi. Warisan ini meliputi bangunan bersejarah, benda pusaka, serta nilai dan tradisi budaya yang diwariskan. Bangunan bersejarah di kawasan Kotagede, seperti sisa-sisa keraton, benteng, cepuri, masjid, makam, pasar, dan pemukiman kuno bukan hanya memiliki nilai
References
Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta. (2019). Kecamatan Kotagede dalam angka tahun 2019. Yogyakarta: Badan Pusat Statistik.
Gill, R. (1995). De Indische stad op Java en Madura: Een morfologische studie van haar ontwikkeling. Den Haag.
Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 186/KEP/2011. (2011). Tentang Penetapan Kawasan Cagar Budaya.
Kostof, S. (1992). The city assembled: The elements of urban form through history. London: Thames and Hudson.
Pratama, I. P. (2014). Smart city beserta cloud computing dan teknologi-teknologi pendukung lainnya. Bandung: Informatika.
Shirvani, H. (1985). The urban design process. New York: Van Nostrand Reinhold.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 RR. Sophia Ratna Haryati, Rivi Neritarani

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




