Peningkatan Pengendalian Kebakaran Lahan Gambut di Perkotaan Palangka Raya melalui Tata Ruang Berbasis Kearifan Kolam Beje
DOI:
https://doi.org/10.32315/ti.9.e009Keywords:
lahan gambut, tata ruang, kearifan, kolam BejeAbstract
Lahan gambut merupakan lahan basah, sehingga seharusnya kebasahannya tetap terjaga agar tak mengering dan mudah basah. Palangka Raya merupakan perkotaan yang berkembang di lahan gambut. Karena pengembangan tata ruang kotanya direncanakan tak berdasarkan karakterisktik lahan gambut, akibatnya lahan gambut di perkotaan Palangka Raya mudah mengering. Karena mudah mengering, ketika musim kemarau, lahan gambut di perkotaan Palangka Raya mudah terbakar sehingga menimbulkan bencana asap bagi warga kota maupun warga disekitar kota Palangka Raya. Mengeringnya lahan gambut diperkotaan Palangka Raya tersebut disebabkan karena para perencana kota yang menyusun rencana tata ruang kotanya menerapkan pengetahuan perencanaan kota untuk lahan kering dan bertanah keras. Oleh karenanya, perlu dicarikan solusi kepada para perencana kota agar produk rencana tata ruang kotanya lebih tepat diterapkan di perkotaan lahan gambut. Solusi yang direncanakan berupa FGD tentang Kearifan Lokal Kolam Beje dan Pelatihan tentang Penerapan Kearifan Lokal Kolom Beje Dalam Rencana Tata Ruang Perkotaan Lahan Gambut. Kegiatan ini sedang berlangsung, dan rencananya awal bulan November 2021 akan dilaksanakan FGD sehingga pada akhir bulan Oktober 2021 gambaran refleksi kegiatan belum dapat dihasilkan. Oleh karenanya, refleksi yang dihasilkan masih berupa dugaan.
References
Adinugroho, W. C. (2003). Concept of Exploiting Peat-Swamp Pools (Beje) and Ditches (Parit) as Participative Fuel/Fire Break in Peat Forest and Peatlands. Proseding workshop on wise use and sustainable peatlands management practices.
Kartamiharja, E. S. (2002). Pengaruh Reklamasi Lahan Rawa Terhadap Penurunan Produksi Dan Perubahan Komposisi Jenis Ikan Pada Usaha Perikanan Beje Di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 8 (4).
Rupawan. (2004). “Beje” Sebagai Kolam Produksi Dilahan Rawa lebak.
Setiadi, B., & Limin, S. (2015). Beje, Aquaculture and Inland Fishery in Tropical Peatland.
Wijanarka. (2014). Mewujudkan Kota Di Bagian Hilir Kalimantan Dengan Sistem Handil. Seminar Nasional Cities 2014.
Wijanarka. (2015). Beberapa Kearifan Lokal Di Kalimantan Tengah Dan Kemungkinan Penerapannya Dalam Penataan Ruang, Bentuk Kota Dan Lingkungan Binaannya (Makalah Seminar Penataan Ruang Dinas PU Provinsi Kalteng)
Wijanarka. (2018). Actualizing a City at the Downstream Areas of Kalimantan by Handil System. Jurnal Perspektif Arsitektur, 13 (2).
Wijanarka. (2019). Model Ruang Kota Berbasis Sungai Pasang Surut (Laporan Kemajuan Penelitian Terapan), Palangka Raya : Universitas Palangka Raya.
Wijanarka, Yupi, H. M. Mardani, H. (2019). Penggunaan Pola Sistem Handil Sebagai Dasar Pengembangan Bentuk Perdesaan Menuju Perkotaan Di Bagian Hilir Kalimantan. Prosiding Seminar Nasional Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat 2019.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2021 Wijanarka, Amiany, Elis Sri Rahayu

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




