Saatnya Mengembangkan (Lagi) Community Based Development di Kawasan Pesisir Indonesia

Authors

  • Hendro Prabowo Universitas Gunadarma
  • Mahargyantari P. Dewi Universitas Gunadarma
  • Henny Regina Salve Universitas Gunadarma
  • Agung Wahyudi Universitas Gunadarma

DOI:

https://doi.org/10.32315/ti.9.k039

Keywords:

lingkungan binaan, pesisir, reklamasi

Abstract

Sebagai negara kepulauan (13.446 pulau) dan memiliki panjang garis pantainya nomor dua di dunia setelah Kanada atau 99.093 kilometer atau, diperkirakan 60% dari penduduk Indonesia hidup dan tinggal di wilayah pesisir. Dewasa ini terdapat 16 proyek reklamasi pantai di seluruh wilayah Indonesia, namun pengembangan reklamasi di Indonesia ini harus berhadapan dengan masyarakat nelayan yang sudah menghuni dalam waktu yang lama di kawasan pesisir tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskusikan masalah pengembangan lingkungan binaan yang dilakukan di wilayah pesisir di Indonesia. Dengan mengambil tiga wilayah yaitu Jakarta, Makassar, dan Bali. Penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka melalui scholar.google.com dan Studi Media, penelitian ini menemukan tidak adanya keterlibatan masyarakat lokal pada pengembangan reklamasi. Masyarakat lokal justru termarginalisasikan secara sosial, ekonomi, dan budaya.

References

Arintoko, A., Ahmad, A. A., Gunawan, D. S., & Supadi, S. (2020). Community-based tourism village development strategies: A case of Borobudur Tourism Village area, Indonesia. GeoJournal of Tourism and Geosites, 29 (2), 398–413. DOI:10.30892/gtg.29202-477

Cho, I. S., & Križnik, B. (2016). Community-based urban development: Evolving urban paradigms in Singapore and Seoul. New York: Springer.

Darmansyah, A., Sudaryono, S., & Swasto, D. F. (2019). Perubahan permukiman nelayan pasca reklamasi pantai Di Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso Makassar. Jurnal Teknosains, 8 (2), 158-167.

https://doi.org/10.22146/teknosains.37731

Dewi, G. S. (2019). Penolakan Masyarakat Terhadap Reklamasi Teluk Benoa Provinsi Bali. Diponegoro Private Law Review, 4 (1).

Harahap, I. H., & Suryana, N. (2019). Urgensi Kebijakan Reklamasi Pantai Utara DKI Jakarta dan Dampak Yang Ditimbulkan. Tataloka, 21 (4).

DOI: https://doi.org/10.14710/tataloka.21.4.689-704

Hikmah, Zulham, A., & Nasution, Z. (2018). Reklamasi Di Teluk Jakarta Dan Perubahan Sosial Pada Masyarakat Nelayan Di Cilincing Jakarta Utara. Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 8 (1), 1-12.

DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jksekp.v8i1.6849

Jaya, A. M., Tuwo, A., & Lanuru, M. (2012). Kajian kondisi lingkungan dan perubahan sosial ekonomi reklamasi Pantai Losari dan Tanjung Bunga. Jurnal Sains & Teknologi, 12 (1). 46-55.

Junaid, I., Sigala, M., & Banchit, A. (2020). Implementing community-based tourism (CBT): Lessons learnt and implications by involving students in a CBT project in Laelae Island, Indonesia. Journal of Hospitality, Leisure, Sport & Tourism Education, 29.

DOI:10.1016/j.jhlste.2020.100295

Kontogeorgopoulos, N. (2005). Community-based ecotourism in Phuket and Ao Phangnga, Thailand: Partial victories and bittersweet remedies. Journal of sustainable tourism, 13 (1), 4-23.

DOI:10.1080/17501220508668470

Koperasi Pemukiman & Lingkungan Hidup. (2015). Eko Damai Mandiri. https://ekodamaimandirivillage.wordpress.com/2015/01/24/eko-damai-mandiri/

Lestari, S. F. (2019). Gerakan Komunitas Nelayan Tradisional Muara Angke Dalam Penolakan Reklamasi Teluk Jakarta. Tesis. Universitas Airlangga.

https://repository.unair.ac.id/82210/3/JURNAL_Fis.P.24%2019%20Les%20g.pdf

Luthfi, M. A. (2018). Center Point of Indonesia Makassar Pada Proses Pembangunannya terhadap Masyarakat Pesisir (2009-2017). Tesis Universitas Negeri Makassar.

Manaf, A., Purbasari, N., Damayanti, M., Aprilia, N., & Astuti, W. (2018). Community-based rural tourism in inter-organizational collaboration: How does it work sustainably? Lessons learned from Nglanggeran Tourism Village, Gunungkidul Regency, Yogyakarta, Indonesia. Sustainability, 10 (7), 2142.

https://doi.org/10.3390/su10072142

Newswire. (2019). Nelayan Kembali Protes Reklamasi 'Central Poin of Indonesia'. https://sulawesi.bisnis.com/read/20190919/540/1150250/nelayan-kembali-protes-reklamasi-central-poin-of-indonesia

Pantiyasa, I. W. (2011). Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Di Desa Bedulu, Blah Batuh, Gianyar). Jurnal Ilmiah Hospitality Management, 1 (2). DOI: https://doi.org/10.22334/jihm.v1i2.68

Pongponrat, K. (2011). Participatory management process in local tourism development: A case study on fisherman village on Samui Island, Thailand. Asia Pacific Journal of Tourism Research, 16 (1). 57-73. DOI:10.1080/10941665.2011.539391

Pongponrat, K., & Chantradoan, N. J. (2012). Mechanism of social capital in community tourism participatory planning in Samui Island, Thailand. Tourismos, 7 (1). 339-349

Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. New York: Simon and Schuster.

Ramadhiani, A. (2017). Data Kiara, 107.361 KK Nelayan Terusir akibat Reklamasi. https://properti.kompas.com/read/2017/01/16/214941121/data.kiara.107.361.kk.nelayan.terusir.akibat.reklamasi.

Reklamasi daratan. https://id.wikipedia.org/wiki/Reklamasi_daratan

Rocharungsat, P. (2008). Community-based Tourism in Asia. Dalam G. Moscardo. (Ed.). Building community capacity for tourism development. Oxfordshire: Cabi. 60-74.

Subekti, S. Perjuangan Masyarakat Adat untuk Keadilan Ekologis di Teluk Benoa, Bali. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 3 (1). 53-67.

Sunuantari, M. (2017). Tourism Communication in Community Based Tourism in Dieng Community, Central Java, Indonesia. Binus Business Review, 8 (2). 149-156.

Van Stekelenburg, J., & Klandermans, B. (2013). The social psychology of protest. Current Sociology, 61 (5-6), 886-905.

Wiranata, I. M. A. (2020). Gerakan Warga Desa Adat di Bali Menentang Reklamasi Teluk Benoa: Studi Fenomenologi Hermeneutik Dalam Perspektif Gerakan Sosial Baru. Tesis Universitas Airlangga Surabaya.

Downloads

Published

2021-12-20