Semiotika Arsitektur Masjid Baiturrahim Ulee Balang Peureulak Kota

Authors

  • Nurmila Dewi Universitas Malikussaleh
  • Soraya Masthura Hassan Universitas Malikussaleh
  • Nurhaiza Universitas Malikussaleh

DOI:

https://doi.org/10.32315/ti.9.k097

Keywords:

semiotika, arsitektur, tanda, makna

Abstract

Dalam perkembangan arsitektur konsep semiotika sering digunakan di dalam konsep arsitektur, yaitu dimana para arsitek memiliki keinginan untuk mengajak seluruh masyarakat untuk bisa memahami suatu karya arsitektur dengan memberikan tanda atau pesan dalam karya arsitektur berupa elemen- elemen arsitektur bangunannya dan membentuk tanda pada bangunan. Pendekatan untuk mengklasifikasikan semiotika yaitu dengan cara dikotomi semiotika saussurean dan trikotomi semiotika pierccian. Dalam dikotomi saussurean yang di kembangkan oleh Roland Barthes disebutkan ada beberapa unsur dalam semiotika arsitektur yaitu konotasi dan denotasi. Dalam trikotomi semiotika Piercean yaitu tanda yang mengandung arti, indeks, ikon, dan simbol yang di kembangkan oleh Charles Morris menjadi pragmatik, sintaksis, dan semantik. Masjid merupakan sebuah bangunan paling khas yang melambangkan simbol Islam dan juga budaya masyarakat Indonesia yang heterogen, sehingga masjid yang ada di Indonesia tampak sangat berbeda dengan masjid-masjid serupa yang berada di wilayah Timur Tengah. Umumnya atap masjid-masjid kuno yang ada di Indonesia tidaklah mengacu kepada atap yang berbentuk kubah tetapi mengambil bentuk atap yang seperti kerucut atau tumpang dan bahkan ada yang bertingkat. Sistem tanda yang terdapat dalam arsitektur meliputi banyak aspek berupa bentuk fisik, ukuran, proporsi, serta jarak antar bagian, warna yang digunakan dan hal lainnya.

References

Barthes, R. (1985). Elements of Semiology. Hill and Wang. New York

Broadbent., G. (1980). Sign, Symbol and Architecture. John Willey & Sons. New York.

Cobley, P., & Jansz, L. (2002). Semiotics for Begininners. Mizan. Bandung

Dariwu., C. T., & Rengkung, J. (2010). Kajian Semiotika Dalam Arsitektur Tradisional Minahasa. Jurnal Arsitektur DASENG UNSRAT, 1 (1).

https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/daseng/article/view/361/pdf

Eco, U. (1980). Function and Sign: The semiotics of Architecture. John Willey & Sons. New York

https://doi.org/10.7312/gott93206-004

Gawlikowska, A. (2013). From Semiotics to Semiotics, Communication of Architecture. Swiss Federal Institute of Architecture. Zurich.

K. S., Tugiyono, Kutoyo, S., Evy, R. (2001). Peninggalan Situs dan Bangunan Bercorak Islam di Indonesia. Jakarta: PT.Mutiara Sumber Widya.

Nazir, M. (2011). Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta

Ningrum, F. D. (2014). Kajian Semiotika Bangunan Istana Maimoon. Universitas Sumatera Utara. Medan

Sabatini, O., & Suryasari, N. (2003). Pelestarian Bangunan RS.HVA.Toeloengredjo Pare-Kediri. Arsitektur e-Journal, 6 (2). www.academia.edu

Sachari, A. (2003). Metodologi Penelitian Budaya Rupa: (Desain, Arsitektur, Seni Rupa dan Kriya). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sobur, A. (2003). Semiotika Kemunikasi. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Markus, Z. (2009). Pendekatan dalam perancangan arsitektur metode untuk menganalisis dan merancang arsitektur secara efektif. Kansius. Semarang

http://kinerja.lib.itb.ac.id/arsitek/index.php/bibliografi/detail/13504

Downloads

Published

2021-12-20