Dokumentasi Gedung Pendopo Aceh Timur (Gedung Eks De Woning Van De Controleur)
DOI:
https://doi.org/10.32315/ti.8.a065Keywords:
bangunan bersejarah, dokumentasi, karakteristik, pelestarianAbstract
Melestarikan bangunan bersejarah mempunyai arti penting untuk dapat mengingat kembali kejadian yang historis. Peristiwa perang di Aceh banyak meninggalkan benda-benda besejarah, salah satunya gedung pendopo di Aceh Timur. Gedung ini berusia lebih dari 50 tahun dan mewakili gaya arsitektur di zamannya, sehingga perlu dilakukan pendokumentasian.Tujuannya melestarikan arsitektur kolonial melalui upaya pendokumentasian fisik bangunan secara terukur dengan menggunakan salah satu prinsip dari ICOMOS yaitu Karakteristik Arsitektur Bangunan. Metode yang digunakan rasionalistik-kualitatif dengan cara studi lapangan dan wawancara. Gedung pendopo termasuk dalam gaya arsitektur peralihan, mempunyai hiasan horizontal di puncak atap dan bukaan yang tinggi.
References
Antariksa (2016). Teori dan Metode Pelestarian Kawasan Pecinan. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka Burra Charter.
Danisworo, M. & Martokusumo, W. (2002). Revitalisasi Kawasan Kota : Sebuah Catatan Dalam Pengembangan dan Pemanfaatan Kawasan Kota, Info URDI (13).
ICOMOS. (1996). Principles fot the recording of monuments, groups of building and sites. Sofia.
Moleong, L. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. remaja Rosdakarya.
Muhadjir, N. (1989). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Rake Sarasin.
Pontoh, N, K. (1992). Preservasi dan Konsentrasi Suatu Tinjauan Teori. Jurnal PWK 4 (6), 34-39.
Shirvani, H. (1985). The Urban Design Process. New York: Van Nostrand Reinhold Company.
UU RI No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2019 Cut Azmah Fithri, Irma Yunita Sari, Bambang Karsono

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




