Arsitektur untuk Disabilitas yang Relevan bagi Kehidupan Masa Depan yang Mandiri dalam Konteks Kewarganegaraan yang Berbasis Arsitektur Komunitas

Authors

  • Nuah P. Tarigan Bina Nusantara University
  • Ghina Arya Bina Nusantara University
  • Zalfa Annasya Zakiyyah Bina Nusantara University
  • Novi Lidyawati Bina Nusantara University
  • Kasnalin Hadiatna Bina Nusantara University
  • Shafa Azahra Bina Nusantara University
  • Dani Milleano Bina Nusantara University

DOI:

https://doi.org/10.32315/ti.8.b113

Keywords:

arsitektur untuk disabilitas, kewarganegaraan, disrupsi, teknologi canggih

Abstract

Arsitektur mengenai disabilitas sudah tidak memadai lagi untuk dikembangkan saat ini, akan tetapi harus berlanjut ke arsitektur di disabilitas dan bahkan arsitektur untuk disabilitas, maksudnya apa? Hal ini berhubungan dengan inklusivitas disabilitas yang masih bermasalah di negara kita yang ber Pancasila ini. Hak kewarganegaraan masih belum semua terakomodir di negeri ini, terbukti dari belum masuknya rencana dan desain yang berbasis ramah pada disabilitas secara komprehensif. Jumlah orang yang mengalami disabilitas di indonesia belum pernah di hitung secara statistik, tapi menurut survey sudah mencapai dua puluh lima juta orang apalagi kalau sudah dilakukan perhitungan detail. Jumlah yang begitu besar bila dibandingkan jumlah penduduk kita, peneliti paparkan akan membawa permasalahan sendiri kedepan apabila tidak ditemukan solusi pemecahan masalahnya. Arsitektur adalah hal yang sangat penting bagi disabilitas, untuk masa depan mereka, baik arsitektur rumah mereka dan publik atau untuk kegunaan yang lain. Khususnya dalam konteks ini ingin memfokuskan diri pada arsitektur di bidang yang berhubungan dengan pendidikannya yang memungkinkan mereka yang terbantu dengan teknlogi yang semakin canggih. Riset yang dikembangkan adalah membangun pengetahuan kira kira kedepan apa yang paling penting dikembangkan untuk disabilitas. Disrupted situation yang menjadi bagian instrinsik dari teknologi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi disabilitas. Semoga kedepan disabilitas semakin banyak diberdayakan dengan pendekatan yang jelas dan terperinci.     

References

Lan, T. J., & Manan, M. A. (2011). Nasionalisme dan Ketahanan Budaya di Indonesia: Sebuah Tantangan. Jakarta: LIPI Press.

Husi, A. M., & Maksum, H. (2016). Membangun Kembali Sikap Nasionalisme Bangsa Indonesia dalam Menangkal Budaya Asing Di Era Globalisasi. Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Pgsd). Jurnal Pesona Dasar. 3 (4).

Hendrastomo, G. (2007). Nasionalisme vs Globalisasi ‘Hilangnya’ Semangat Kebangsaan dalam Peradaban Modern. Jurnal Kajian Sosiologi. 1 (1).

Suneki, S. (2012). Dampak Globalisasi Terhadap Eksistensi Budaya Daerah. Jurnal Ilmiah Civis, 2 (1).

Journal.upgris.ac.id.

Nintia, P. (2016). Pengaruh Event Terhadap Pengambilan Keputusan Berkunjung KE anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah. Jurnal Administrasi Bisnis, 61 (3).

Mentayani, I. (2012). Menggali Makna Arsitektur Vernakular. Lating: Journal Architecture. 1 (2).

Adhar (2012). Penerapan Elemen Estetis pada Bangunan Rumah Adat Bima di Nusa Tenggara Barat. Eprintis.unm.ac.id

Faisal, A. F. (2017). Mengenal Rancangan Bangun Rumah Adat di Indonesia.

https:/badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahas

Wutun, R. P., & Wijaya, R. P. C. (2019) Setia Sampai Terbukti: A Triadic Intervention in Persons With Leprosy to Improve Well being and Reduce Stigma. Journal of Health and Behavioral Science, 1 (2), pp. 106-111.

Kuper, H. & Heydt, P. (2019). The missing billion: Access to health services for 1 billion people with disabilities. One billion people around the world live with disabilities. This report makes the case that they are being “left behind” in the global community’s work on health. Meeting report: The Leprosy Research Initiative Spring Meeting. Lepr. Rev. 90 (2), 183–200.

Downloads

Published

2019-12-20