Pekerjaan dan Ekonomi Nelayan: Pengaruhnya dalam Tata Ruang Hunian di Pesisir Pantai Bahari
DOI:
https://doi.org/10.32315/ti.8.c001Keywords:
permukiman nelayan, pekerjaan nelayan, ekonomi nelayanAbstract
Pantai bahari adalah permukiman pembudidaya rumput laut dan nelayan. Tempat kerja mereka adalah di laut sehingga berupaya menempatkan huniannya dekat dengan tempat kerja. Sedang rumah adalah merupakan tempat segala kegiatan domestic dan social berlangsung. Perkembangan mata pencaharian mendorong masyarakat untuk ikut berperaan serta di dalamnya (khususnya wanita dan anak-anak) namun mereka juga tidak mau mengabaikan kegiatan domestic dan social, agar semua aktifitas dapat berjalan lancar maka masyarakat memilih ruang untuk kerja yang dekat atau bahkan berada dalam lingkungan rumah dan kolong adalah pilihan yang paling tepat. Tujuan yang ingin dicapai adalah bagaimana penghuni permukiman menyikapi pekerjaan dan kondisi ekonominya terkait dengan wujud perumahannya. Metode yang digunakan adalah eksplorasi, dimana peneliti mengeksplorasi semua hal yang terkait dengan perumahan kaitannya dengan pekerjaan dan ekonomi masyarakat. Eksplorasi dilakukan dengan cara perekaman, wawancara, dan pengukuran. Analisa dilakukan secara deskriptif. Hasil adalah penempatan hunian sangat dipengaruhi oleh pekerjaan masyarakat, sedang bagian rumah yaitu kolong menjadi ruang multi fungsi karena adanya tuntutan keluarga (wanita, anak-anak, dan orang tua) yang ingin bekerja (menambah income keluarga) namun tidak ingin kegiatan lainnya terabaikan, selain itu mereka ingin bekerja daalam suasana yang lebih santai, nyaman, dan aman.
References
Budihardjo, E. (2006). ”Percikan Masalah Arsitektur, Perumahan Perkotaan”, Cetakan terbaru, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Puspasari,D. A., & Damayanti, M. (2018). Jurnal Pengembangan Kota. 6 (1), 17-25.
Departemen Permukiman dan Prasarana wilayah Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman (2001), Petunjuk Pelaksanaan Peremajaan Lingkungan Permukiman Kumuh di Perkotaan dan Perdesaan dengan Konsep TRIDAYA, Jakarta.
Kellett , P., & Tipple, A. G. (2000). The Home as Workplace: A study of Income-Generating Activities Within The Domestic Setting. Evironmental and urbanisation, 12 (1), 203-213
Lang, J. (1987). Creating Architectural Theory, The Role of The Behavioral Sciences in Environmental Design, Van Nostrand Reinhold Company Inc, New York.
Mardanas, I., dkk. (1985). ” Arsitektur Tradisional daerah Sul-Sel”, Dep. P. dan K. Jakarta.
Mulyadi (2007). ”Ekonomi Kelautan”, PT Raja Graffindo Persada. Jakarta
Newmark, N. L., & Thompson, P. J. (1977), ” Self, Space, and Shelter”, Herber and Row Publisher Inc, New York.
Christian, N. S. (1965). Intentions in Architecture. The Massachusetts Institute of Technology. Press: Cambridge
Rapoport, A. (1969). ”House Form and Culture”, Prentice–hall Inc. Engglewood Cliffs N. J., New York.
Melinda, R. (2010). Pemenuhan Kebutuhan Privasi dalam Rumah Sebagai tempat Bertinggal Sekaligus sebagai tempat Bekerja. Skripsi UI.
Suparlan, P. (1987), “Tinjauan Tentang Kampung kota“, Pusat Informasi P2KP., Jakarta.
Turner, J. F. (1972). Freedom to Build. Dweller Control of Housing Process. Publisher The Macmillan Company, USA
United Nations (1996), ”The Human Right To Adequate Housing” Fact Sheet no 21. Printed at United National, GE 96-16191-May-1996-14.895. ISSN 1014-5567. Geneva, Zwitzerland
UU No 1 tahun 2011. Tentang Perumahan dan Permukiman
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2019 Idawarni Asmal, Edward Syarif, Samsuddin Amin

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




