Evaluasi Penggunaan Pencahayaan Alami terhadap Jalur Evakuasi di Rusunawa Lajang

Authors

  • Indah Yuliasari Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
  • Rita Laksmitasari Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.32315/ti.8.c025

Keywords:

rusunawa, pencahayaan alami

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kriteria pencahayaan alami apa saja yang diterapkan terhadap jalur evakuasi pada rusunawa lajang. Metode yang digunakan yaitu penulisan deskriptif kualitatif yaitu menjelaskan dan menjabarkan melalui metode studi pustaka dengan mengkaji dan membandingkan sumber-sumber yang relevan dengan studi kasus yang diamati. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif dan ditarik kesimpulan. Hasil pembahasan menyatakan bahwa dari dua studi rusunawa lajang, walaupun masing-masing rusunawa lajang ini menerapkan poin yang berbeda-beda. Kota Semarang terus mengalami lonjakan pertumbuhan populasi dan pembangunan infrastruktur, hal ini merupakan sedikit dari penyebab timbulnya beragam masalah, seperti kepadatan lahan yang mengakibatkan menjamurnya daerah kumuh dan menurunnya jumlah Ruang Tata Hijau. Rumah Susun Sederhana Sewa lajang sebagai solusi menjawab kawasan padat permukiman dan kemiskinan, yang sudah lama dikenalkan oleh para perancang perkotaan. Rusunawa dengan pendekatan konsep penggunaan pencahayaan alami terhadap desain jalur evakuasi rusunawa lajang. Ruangan yang panas dan perancangan rusunawa yang tidak tepat turut mempercepat terjadinya pemanasan global, dikarenakan peningkatan penggunaan energi pendingin buatan dan penurunan kuantitas vegetasi. Tantangan dalam penelitian ini adalah mengadakan hunian yang ramah bagi manusia dan alam, dengan memperhatikan aspek penggunaan pencahayaan alami. Penggunaan material dan strategi desain yang berorientasi pada pencahayaan alami terhadap jalur evakuasi dalam perancangan rusunawa ini, terbukti telah memberi banyak dampak positif dari segi kenyamanan termal penghuni. Kenyamanan termal yang dimaksud yaitu dari segi suhu radiasi, suhu operatif, kelembaban, kecepatan angin, dan pencahayaan yang telah memenuhi standar yang berlaku di Indonesia.

References

Badan Standarisasi Nasional Indonesia (2001). Tata cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung (SNI 03-6575-2001), BSNI, Jakarta.

Badan Standarisasi Nasional Indonesia (2000). Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan (SNI 03-6197-2000), BSNI, Jakarta

Badan Standarisasi Nasional Indonesia (2001). Tata cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung (SNI 03-2396-2001 ), BSNI, Jakarta.

Chiara, J. D. & Callender, J. (1987). Timesaver Standards for Building Types 2nd Edition.

Feriadi, H., & Frick, H. (2008). Atap Bertanaman Ekologis dan Fungsional. Yogyakarta. Kanisius.

Karyono, T. H. (2010). Green Architecture: Pengantar Pemahaman Arsitektur Hijau di Indonesia. Jakarta: Penerbit PT Raja Grafindo Persada.

Lippsmeier, G. (1997). Bangunan Tropis. Jakarta. Erlangga : PT. Gelora Aksara Pratama. Lechner

Robert (2015), Heating Cooling Lighting Sustainable Method For Architects Fourth 4 Edition, John Wiley & Sons, Inc, Canada.

Lecner, N. (2007). Heating, Cooling, Lighting: Metode Desain untuk Arsitektur, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Mediastika, E. C. (2005). Akustika Bangunan: Prinsip-prinsip dan Penerapannya di Indonesia, Penerbit Erlangga, Jakarta

Satwiko, P. (2009). Fisika Bangunan. Yogyakarta. C.V Andi Offset : Andi Offset

Sugini (2014). Kenyamanan Termal Ruang, Konsep dan Penerapan pada Desain. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Tanggoro, D. (2010). Utilitas Bangunan. Jakarta : Universitas Indonesia.

Downloads

Published

2019-12-20