Karakteristik Rumah Panggung di Daerah Gempa Kasus: Kampung Cihikeu Desa Sarampad Cianjur
DOI:
https://doi.org/10.32315/ti.12.d025Keywords:
karakteristik rumah panggung, zona merah, material ringanAbstract
Rumah panggung di Desa Cihikeu, Desa Sarampad, Kabupaten Cianjur merupakan Kawasan Gempa Zona Merah memiliki ciri khas dibandingkan kawasan lain yang bukan kawasan gempa zona merah. Zona merah berarti tidak layak huni. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu wawancara dengan teknik snowball sampling dan observasi untuk mengetahui bagaimana karakteristik rumah panggung. Karakteristik penggunaan material ringan memberikan keselamatan dan keamanan pada rumah panggung ini. Material kayu ringan jenis kayu jeuingjing dicampur dengan kayu bayur dan kayu suren serta bambu digunakan pada material struktural maupun material pengisi, sehingga pada saat terjadi gempa, bangunan bergerak naik dan kembali lagi ke umpak batu, meskipun ada beberapa bangunan yang tidak tepat di posisi umpak batu, namun mudah untuk dikembalikan dengan diangkat dan diletakkan kembali di atas umpak batu. Kenyamanan tercermin pada penggunaan elemen pengisi berupa lembaran kayu dan anyaman bambu, jendela dengan penerangan yang cukup, serta penutup atap berupa genteng tanah.
References
Adji. (2023, April 8). Mengenal Pohon Suren, Serba Guna dan Dapat Menjadi Insektisida Alami. https://lindungihutan.com/blog/mengenal-manfaat-pohon-suren/
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. (2023, January 8). Peta Bahaya Gempabumi Cianjur (dengan Sumber Gempa Patahan Cugenang). https://www.bmkg.go.id/berita/utama/peta-bahaya-gempabumi-cianjur-dengan-sumber-gempa-patahan-cugenang
Dahono, Y. (2022, December 13). Belajar dari Gempa Cianjur: Rawan Gempa Indonesia Patut Waspada. https://www.beritasatu.com/fokus/belajar-dari-gempa-cianjur
Frick, H., & Mulyani, T. H. (2006). Pedoman bangunan tahan gempa. Kanisius.
Hadibroto, B. (2017). Analisis Karakteristik Rumah di Kota Medan terhadap Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan Gempa. Educational Building, 3(2). https://doi.org/10.24114/eb.v3i2.8258
Hariyanto, A. D., Triyadi, S., & Widyowijatnoko, A. (2023). The adaptability of stilt houses roof structure in earthquake prone region in the context of local seismic culture. ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, 8(1). https://doi.org/10.30822/arteks.v8i1.2130
Hildayanti, A., & Wasilah. (2021). The Existence of Stilt Houses Post-Disaster. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 903(1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/903/1/012009
Indrianeu, T. (2017). Hubungan Pemanfaatan Bambu sebagai Bahan Kontruksi Rumah Tahan Gempa dengan Perilaku Masyarakat dalam Menjaga Pelestarian Lingkungan. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 26.
Khairi, Y. al. (2022, October 23). Pohon Jeungjing dan Kualitas Kayunya yang Mendunia. https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-jeungjing-dan-kualitas-kayunya-yang-mendunia/
Krier, R. (1988). Architectural Composition. Rizzoli.
Marasabessy, F., & Muhammad, A. A. (2019). Typology of House in Earthquake Disaster Area: A Case Study of Bobanehena Village, West Halmahera. Aceh International Journal of Science and Technology, 8(1). https://doi.org/10.13170/aijst.8.1.12246
Pramudya, A., & Ratnasari, T. (2022, July 3). Pohon Bayur: Klasifikasi, Ciri-ciri, dan Manfatnya (Update 2024). https://lindungihutan.com/blog/pohon-bayur/
Prijotomo, J. (2006). (Re -) Konstruksi arsitektur Jawa : Griya Jawa dalam tradisi tanpa tulisan. Wastu Lanas Grafika.
Sastrawati, I. (2009). The characteristics of the self-support stilt-houses towards the disaster potentiality at the Cambaya coastal area. DIMENSI (Jurnal Teknik Arsitektur), 37.
Schodek, D. L. (1999). Struktur. Erlangga.
Wati, D. I. (2013). Pengaruh Keberadaan Makam Kiai Muzakir terhadap Kesadaran Lingkungan Masyarakat Pesisir Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak. Jurnal Masyarakat & Budaya, 15(1), 157–176.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Andjar Widajanti

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




