Peran Ruang Terbuka Tradisional dalam Pembangunan Berkelanjutan dan Pelestarian Lanskap Budaya
DOI:
https://doi.org/10.32315/ti.12.e039Keywords:
ruang terbuka tradisional, lanskap budaya, pembangunan berkelanjutan, pelestarian, ekologiAbstract
Ruang terbuka merupakan poin penting di dalam perencanaan pembangunan sebuah kota atau kawasan. Lanskap Bali yang terdiri dari pegunungan, bukit, danau, persawahan dengan terasering, daratan dengan permukiman tradisional, juga terdapat elemen-elemen lanskap Bali yang merupakan ruang terbuka tradisional yaitu natah, telajakan, teba, lebuh, radius kesucian pura, area melasti, alun-alun/pempatan agung, dan pemakaman (setra). Keberadaan ruang terbuka tradisional telah diwariskan turun-temurun, namun kini muncul kekhawatiran akan hilangnya elemen-elemen tradisional ini khususnya di daerah perkotaan, yang lahannya semakin sempit sehingga menyebabkan pembangunan hanya untuk memenuhi fungsi. Penelitian ini mengkaji kembali pentingnya peran ruang terbuka tradisional dengan menggali nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya sehingga dapat dijadikan dasar untuk pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan ekologi. Metode dalam penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melakukan observasi, studi literatur, dan studi terhadap penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan topik, kemudian menganalisis dengan melakukan kajian dan elaborasi terhadap variable-variabel ruang terbuka tradisional. Hasil dari penelitian ini adalah ruang terbuka tradisional memberikan manfaat yang positif bagi sebuah kawasan yang dapat memberikan identitas, memberikan manfaat estetis, manfaat kesehatan bagi warganya, dan manfaat keselamatan. Urgensi penelitian ini adalah pentingnya melestarikan ruang terbuka tradisional untuk pembangunan berkelanjutan mengingat munculnya dampak-dampak dari globalisasi serta untuk mempertahankan identitas, lokalitas dan konservasi lanskap budaya Bali.
References
Aiswarya, P. S. (2023, May 9). Teba Modern, Solusi Pengelolaan Sampah Warisan leluhur Bali. https://bali.antaranews.com/berita/315231/teba-modern-solusi-pengelolaan-sampah-warisan-leluhur-bali
Dinas Kebersihan dan Pertamanan & Universitas Udayana. (1998). Hasil Penelitian: Penyusunan Rencana Umum Pertamanan, Propinsi Daerah Tingkat I Bali .
Gelebet, I. N., Meganada, I. W., Negara, I. M. Y., Suwirya, I. M., & Surata, I. N. (1982). Arsitektur tradisional daerah Bali. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali.
Judijanto, L., Shu, E., Ohorella, N. R., Irmawati, Rivai, Y., Lase, A., Syathroh, I. L., Putriana, A., Hasyim, M., Boari, Y., Asrawijaya, E., & Febrianto, R. W. (2024). PARIWISATA DALAM BINGKAI: Memahami Sejarah, Budaya, dan Perkembangan Terkini. Yayasan Literasi Sains.
Kariarta, I. W. (2022). Upacara Melasti (Resakralisasi Dalam Persfektif Teologi Sosial). Jnanasiddhanta: Jurnal Teologi Hindu, 3(1), 63–72.
Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Bali Tahun 2009-2029 (2009).
Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2022 Tentang Penyediaan Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (2022).
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (2007).
Putra, I. G. M. (2003). Perubahan Eskpresi Konsep Natah Dalam Tata Ruang Di Bali. Jurnal Permukiman Natah, 1(2), 52–108.
Raharja, I. G. M. (2011). Falsafah dan Konsep Ruang Tradisional Bali.
Reuter, T. A. (2002). Custodians of the Sacred Mountains: Culture and Society in the Highlands of Bali. University of Hawaii Press.
Setiawan, E. P., Dwijendra, N. K. A., & Pradiptha, I. P. Y. (2019). Telajakan (Green Open Space of Balinese Architecture) as A Noise Barrier in Bali. International Journal of Engineering Research & Technology (IJERT), 8(5). https://doi.org/10.17577/ijertv8is050340
Strangstad, L. (2013). A Graveyard Preservation Primer. Bloomsbury Publishing.
Suarya, I. M. (2003). Peranan Natah di dalam Kehidupan Masyarakat Bali. JURNAL PERMUKIMAN “NATAH,” 1(1).
Supriadi, Y. (2023, January 21). 3 Jenis tujuan penelitian yang perlu kamu ketahui. https://www.academictraveling.com/2023/01/tiga-tujuan-penelitian.html
Sutrisna, A. A. G. (2016). Pelanggaran Bhisama Kesucian Pura Di Sekitar Pura Dang Kahyangan Di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Jurnal Ruang/SPACE, 3(3), 255–274.
Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman, Pub. L. No. 1 (2011). https://peraturan.bpk.go.id/Details/39128/uu-no-1-tahun-2011
Utari, C. I. A. C. (2021). Perubahan Fungsi Teba di Pekarangan Desa Nyuh Kuning. Jurnal Arsitektur Lansekap. https://doi.org/10.24843/jal.2021.v07.i02.p12
Wijaya, I. G. K. A., Utami, N. W. F., & Gunadi, I. G. A. (2020). Identifikasi lanskap Karang Bengang di Desa Buahan, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan. Jurnal Arsitektur Lansekap. https://doi.org/10.24843/jal.2020.v06.i02.p04
Wijaya, I. K. M. (2019). Konsepsi Natah dan Lebuh sebagai “Ruang Keseimbangan” Dalam Arsitektur Tradisional Bali. Jurnal Arsitektur ZONASI, 2(2). https://doi.org/10.17509/jaz.v2i2.14677
Wiryawan, I. W. (2010). Natah Bagi Orang Bali, Perspektif Natah Dalam Keseharian. Jurnal Permukiman NATAH, 8(1), 49–54.
Yudantini, N. M. (2015). Bali Aga cultural landscape challenges: conserving the Balinese traditional landscape for future Balinese indigenous villages (Bali Aga) and communities [Dissertation]. Deakin University.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Ni Made Yudantini, Anak Agung Ngurah Aritama

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




